curhat pelaut Weblog

Just another WordPress.com weblog

  • Februari 2009
    M S S R K J S
    « Mar   Sep »
    1234567
    891011121314
    15161718192021
    22232425262728
  • Klik tertinggi

    • Tidak ada
  • Arsip

Archive for Februari 26th, 2009

Sperti Bapa Sayang Anaknya

Posted by suryamasmbe pada Februari 26, 2009

Kasih Allah kepada Kita

Adalah seorang muda yang taat berdoa yang masih berpacaran dengan seorang gadis muda juga yang baik hati. Kedua orang ini adalah dua konglomerat kaya. Sebelumnya merekapun selalu berdoa,

‘Tuhan berikanlah aku pasangan yang menurut Engkau terbaik…‘ Setelah mereka menikah, keadaan berubah. Maksudnya, doanya berubah menjadi,
‘Tuhan, berikanlah kami anak yang terbaik buat kami.’
Tetapi setelah 7 tahun mereka menikah, mereka tidak mempunyai anak.

Setelah mereka berdoa dan berdoa, akhirnya mereka mempunyai anak. Dan keadaan, maksudnya doa mereka berubah lagi,
‘Tuhan, biarlah anak ini menjadi anak yang terbaik bagi kami.’
Dan benar, setelah 9 bulan istrinya mengandung, lalu lahirlah seorang anak bagi mereka.
Anak laki-laki pak,’ kata dokternya.
Sang ayah langsung melonjak kegirangan.

Tetapi setelah 3 hari, sang dokter memanggil si ayah ke rumah sakit. Lalu si dokter berkata,
‘Pak, dengan berat hati saya harus menyampaikan kabar buruk kepada anda.’
Si ayah membalas,
‘Kabar apapun, saya siap menerimanya, pak dokter. Saya siap menghadapi yang terburuk’
‘Dan hal yang buruk itu adalah, bahwa putra anda tidak akan bertumbuh dengan normal seperti anak-anak yang lain,’ jelas si dokter.
‘Apa maksud bapak,’ si ayah bertanya.
Dokter melanjutkan,
‘Putra anda menderita sesuatu kecacatan yang tidak dapat disembuhkan. Yaitu cacat mental yang serius.’
Sang ayah lalu menitikan air mata dan berkata sambil berdoa, ‘Tuhan, apapun yang Engkau berikan kepadaku, aku tahu semuanya baik dan Engkau tidak pernah mencelakakan anak-anakMu.’

But above all these things put on love, which is the bond of perfection. Colossians 3:14 (NKJV)

Sejak itu, kedua orang tua itu membeli ranjang bayi khusus anak mereka dan ditaruh di samping ranjang mereka berdua.
Mereka selalu kesulitan untuk mengurus anak mereka tersebut,
tetapi mereka menanggung semuanya itu. Beranjak keluar dari
umur batita, mereka membuatkan kamar khusus untuk anak mereka tersebut.

Anak itu menjadi anak yang sangat istimewa dan menjadi anak mereka satu-satunya. Mereka memberikannya segala yang dia mau dan dia perlukan. Mainan macam-macam, komputer, boneka, dan lain-lain. Dan jika si ayah selesai pulang kerja, ia selalu mengajak si anak bermain. Dengan mainan yang ada atau jika ayahnya membawa mainan yang baru untuk anaknya.

Setiap ayahnya pergi keluar misalkan untuk berpesta dengan rekan kerjanya atau teman-temannya yang sedang berbahagia, ia selalu membawa serta istri dan anaknya. Dan di depan rekan-rekan kerjanya atau teman-temannya, ia selalu membanggakan anaknya. ‘Woi anak gw nih… ganteng kan ?’ Selalu ia mengatakan demikian, karena ia tahu, anaknya ini adalah anugerah Allah yang terbesar dalam dirinya.. Dan ia sangat mengasihi anak ini, karena ini anaknya. Meskipun dia cacat.

Tetapi setelah anak itu bertumbuh makin dewasa, kecacatannya semakin kelihatan. Kemampuan komunikasinya kurang, jika terjemur matahari sebentar mulutnya akan keluar busa, dan jika sedang berbicara kadang air liurnya menetes.
Tetapi meskipun begitu, kedua orang tua tetap sangat sangat menyayangi anak mereka yang cacat itu.

Suatu hari, pagi-pagi sekali anak cacat ini sudah bangun, sekitar pukul 4..30. Dalam pikirannya, ‘Hari ini, aku pengen buat sarapan yang speeeeeesial buat papa.’
Setelah doa pagi, ia pergi menuju dapur. Ia mengambil potong roti, lalu menaruhnya dalam oven, dan menyetel waktunya sampai 10 menit. Tentu saja hasilnya gosong. Setelah bunyi ‘ting’, maka anak cacat itu menaruhnya di atas sebuah piring. Lalu ia mengoleskan selai kacang keju yang (amat) sangat banyak, sambil berpikir, ‘Harus kasih yang baaaaanyak buat papa, biar ueeeeenak rasanya’.

Setelah itu, ia berlari ke kulkas, karena ayam sudah mulai berkokok, lalu mengambil sebutir telur. Dan lalu memanaskan panci di atas kompor, lalu memecahkan telur tersebut dan menuangkan isinya ke dalam panci tersebut, dan langsung menaruhnya di atas piring yang lain, sambil berpikir,
‘Kalo aku buatnya cepet, pasti papa seneng, karena gak perlu nunggu lama.’ Dan lalu ia bergegas mengambil cangkir, dan mengambil toples kopi bubuk. Jika kita hanya membutuhkan 2 sendok teh, anak cacat ini memakai 5 sendok teh kopi bubuk, sambil berpikir, ‘Kalau 2 sendok teh saja sudah harum, apalagi 5, pasti papa suka.’ Jadilah kopi yang terasa seperti kopi tua itu.

Lalu si anak cacat ini mengambil nampan, lalu dengan hati-hati tanpa menimbulkan bunyi macam-macam, menaruh semua piring yang di atasnya ada roti gosong dan telur mentah dan cangkir kopi tua tersebut, dan menuju kamar ayahnya. Lalu ia membangunkan ayahnya, dan lalu berkata begini,
‘Papa, bangun dong, aku udah buat sarapan yang spesiaaaaaaaal buat  papa.’
Lalu ayahnya bangun dan melihat dan menghirup aroma ‘sedap’ dari roti gosong, telur mentah dan kopi tua tersebut.
‘Wah pasti enak nih.’

Sebelum si ayah melipat tangannya untuk berdoa, si anak berkata, ‘Pa, kali ini aku doain makanan ini buat papa ya, ‘ kan biasanya papa yang doain. OK ya papa?’
Sebelum ayahnya sempat mengangguk, si anak cacat ini sudah melanjutkan,
‘Papa ikutin ya: Tuhan Yesus, terima kasih, atas makanan ini, yang telah Tuhan sediakan. Terima kasih Tuhan, amin.’

Lalu ayahnya mecoba roti gosong tersebut, dan setelah ayahnya mengunyah gigitan pertama, si anak cacat dengan polosnya bertanya,
‘Enak kan pa?’
‘Iya, enaaaak sekali,’ lalu melanjutkan makan.
Setelah roti tersebut habis, ia memakan telur mentah tersebut. Dan si anak bertanya,
‘Telurnya enak kan pa? Aku yang masak semuanya loooo….’
Si ayah berkata,
‘Wah kamu yang masak? Enak sekali nak.’
Lalu si ayah melanjutkan memakan telur mentah tersebut. Setelah semua makanan habis, ia mecoba kopi tua itu. Si anak bertanya lagi, ‘Harum dan enak kan pa?’
Si ayah tanpa expresi mual apapun, membalasnya,
‘Pahit, tapi papa suka sekali.’
Dan dengan lugunya si anak menjawab,
‘Ya iya dong papa, kopi kan pahit…,’ karena ia mengira ayahnya sedang bercanda.

Setelah semuanya habis, si ayah membelai kepala anaknya dan berkata
‘Ray, kamu tau nggak…’
‘Nggak paa,’ potong si anak cacat tersebut.
Lalu si ayah melanjutkan,
‘Kalau semua masakan kamu, enaaaaak sekali.’
Lalu si anak menjawab,
‘Iya dong pa, kan aku yang masakin, spesiaaaaaal buat papa.’
Lalu si ayah berkata lagi,
‘Kamu tahu nggak kenapa papa senang hari ini?’
Si anak sambil menggelengkan kepala,
‘Nggak tau pa….’
‘Karena hari ini kamu dah buat sarapan yang, spesiaaaaal buat papa.’ Lalu si ayah melanjutkan,
‘Ray, kamu tahu gak kenapa papa sayaaaaaaang sekali sama kamu?’ Lalu dengan lugunya anak cacat ini menjawab,
‘Nggak tahu pa…..’
‘Karena kamu anak papa yang udah bikin papa, seneeeeeeeeeeeng banget.’
‘Raymond juga, sayaaaaaaaaaang banget sama papa.’
Lalu sambil menitikan air mata, ia memeluk anaknya yang cacat itu, dan berkata kepada anaknya,
‘Terima kasih ya nak, karena telah memasakan sarapan roti, telur, dan kopi ini buat papa. Semuanya terasa, enaaaaak sekali.’
Lalu si anak menjawab,
‘Sama-sama papaah….’
Dan si ayah lalu berdoa dalam hatinya,
‘Tuhan terima kasih, karena Engkau sudah memberikan anak yang sangat sayang padaku…’

Anda tahu, siapakah anak cacat dan ayah tersebut?
Kamulah, yang sedang membaca adalah anak yang cacat tersebut.. Seperti anak cacat itu memberikan kepada ayahnya, roti gosong, telur mentah dan kopi tua, juga kita, memberikan apa yang tidak sempurna dari kita untuk Tuhan.
Roti gosong, telur mentah dan kopi tua, yang merupakan apa yang tidak sempurna dari kita misalnya, pujian, dan kehidupan kita, Tuhan terima semuanya dengan senang hati, karena Tuhan tahu, bahwa kita melakukannya dengan segenap hati kita yang tertuju pada Bapa di sorga, dan kita ingin melakukan yang terbaik untuk Bapa kita di sorga.

Ingat ini: Bapamu di sorga menyayangimu, apa adamu, apa yang ada padamu, apapun yang engkau berikan dengan segenap hatimu, merupakan sebuah persembahan yang harum. Karena Bapamu mengasihi kamu, sampai-sampai Ia sendiri mengirimkan Anak-Nya untuk turun ke dunia, untuk menebuskan dan mematahkan segala kutuk atas diri kita, dan untuk membayar lunas segala hutang dosa kita dan menebus dosa kita dari maut..

Ingat : Bapamu di sorga mengasihimu.

Posted in Renungan | Leave a Comment »

Posted by suryamasmbe pada Februari 26, 2009

7 KIAT KERJA MENURUT AMSAL SALOMO

1. Andalkan Tuhan
Amsal 3:5-6 berkata, “Percayalah kepada Tuhan dengan segenap hatimu, dan
janganlah bersandar kepada pengertianmu sendiri. Akuilah Dia dalam segala
lakumu, maka Ia akan meluruskan jalanmu.”
Sertakan Tuhan di dalam segenap pekerjaanmu karena banyak yang harus kita
kerjakan tetapi tidak diajarkan di bangku sekolah dan banyak yang terjadi
yang tidak pernah kita duga sebelumnya.

2. Carilah Pengetahuan
Ilmu pengetahuan, cara bekerja yang benar & efisien perlu kita cari.

Amsal 19:2 berkata, “Tanpa pengetahuan, kerajinanpun tidak baik; orang yang
tergesa-gesa akan salah langkah”. Jangan sungkan belajar dan meminta
petunjuk jika tidak mengerti.

Amsal 19:20 berkata,”Dengarkanl ah nasihat dan terimalah didikan, supaya
engkau menjadi bijak di masa depan.”

3. Rajin dan Cekatan
Hanya orang rajin dan cekatan yang akan diingat oleh pimpinannya, terutama
waktu menetapkan promosi jabatan & kenaikan gaji.

Amsal 10:4 berkata, “Tangan yang lamban membuat miskin, tetapi tangan orang
rajin menjadikan kaya”.
Amsal 14:23 berkata, “Dalam tiap jerih payah ada keuntungan, tetapi
kata-kata belaka mendatangkan kekurangan saja.”

4. Berlakulah Jujur dan Benar

Amsal 16:8 berkata,”Lebih baik penghasilan sedikit disertai kebenaran,
daripada penghasilan banyak tanpa keadilan”.  Amsal 10:9 berkata,”Siapa
bersih kelakuannya, aman jalannya, tetapi siapa berliku-liku jalannya,akan
diketahui “.
Renungkan juga Amsal 10:16,”Upah pekerjaan orang benar membawa kepada
kehidupan,penghasil an orang fasik membawa kepada dosa.”

5. Jaga Mulut
Mengerjakan tugas-tugas adalah suatu pekerjaan yang berat, jangan ditambahi
lagi dengan masalah lain karena mulut kita yang bocor. Amsal 21:23 berkata,
“Siapa yang memelihara mulut dan lidahnya, memelihara diri daripada
kesukaran”.
Amsal 10:19 berkata, “Di dalam banyak bicara pasti ada pelanggaran, tetapi
siapa yang menahan bibirnya, berakal budi.”

6. Sabar dan Tenang

Amsal 16:32 berkata,”Orang yang sabar melebihi seorang pahlawan, orang yang
menguasai dirinya, melebihi orang merebut kota”.  Amsal 14:30 menambahkan,
Hati yang tenang menyegarkan tubuh, tetapi iri hati membusukkan tulang.”

7. Jangan Ingin Cepat Kaya
Menjadi kaya adalah impian kebanyakan orang dan sah-sah saja. Yang harus
diperhatikan adalah :
(1) Menjadi kaya, bukanlah tujuan utama di dalam hidup ini;
(2) Ingin cepat kaya seringkali menjebak orang-orang ke dalam perbuatan
yang berdosa;
(3) Menikmati hidup lebih penting dari menjadi kaya tetapi mempunyai banyak
masalah.

Renungkanlah Amsal 10:22, “Berkat Tuhan-lah yang menjadikan kaya, susah
payah tidak akan menambahinya, ” dan Amsal 13:11, “Harta yang cepat
diperoleh akan berkurang, tetapi siapa mengumpulkan sedikit demi sedikit,
menjadi kaya.”

SELAMAT BEKERJA

Posted in Renungan | Leave a Comment »

Posted by suryamasmbe pada Februari 26, 2009

Belajar mendengarkan suara Tuhan

Pernah ada seseorang yang tak punya makanan apapun untuk keluarganya. Ia masih punya bedil tua dan tiga butir peluru. Jadi, ia putuskan untuk keluar dan menembak sesuatu untuk makan malam. Saat menelusuri jalan, ia melihat seekor kelinci dan ia tembak kelinci itu tapi luput. Lalu ia melihat seekor bajing, dia tembak tapi juga luput lagi. Ketika ia jalan lebih jauh lagi, dilihatnya seekor kalkun liar diatas pohon dan ia hanya punya sisa sebutir pelor, tapi terdengar olehnya suatu suara yang berkata begini “berdoalah dulu, bidik ke atas dan tinggallah tetap terfokus.”

Namun, pada saat bersamaan, ia melihat seekor rusa yang adalah lebih menguntungkan. Senapannya ia turunkan dan dibidiknya rusa itu. Tapi lantas ia melihat ada ular berbisa diantara kakinya, siap-siap untuk mematuknya, jadi dia turunkan lebih kebawah lagi, mengarah untuk menembak ular itu.

Tetap, suara itu masih berkata kepadanya, “Aku bilang ‘berdoalah dulu, bidik keatas dan tinggallah tetap terfokus.'” Jadi orang itu memutuskan untuk menuruti suara itu. Ia berdoa, lalu mengarahkan senapan itu tinggi keatas pohon, membidik dan menembak kalkun liar itu. Peluru itu mental dari kalkun itu dan mematikan rusa. Pegangan senapan tua itu lepas, jatuh menimpa kepala si ular itu dan membunuhnya sekali. Dan, ketika senapan itu meletus, ia sendiri terpental kedalam kolam. Saat ia berdiri untuk melihat sekelilingnya, ia dapatkan banyak ikan didalam semua kantungnya, seekor rusa, dan, seekor kalkun untuk bekal makanannya. Ular (Iblis) mati konyol sebab orang itu mendengarkan suara Allah.

Berdoalah sebelum kau lakukan apapun, bidik dan arahkan ke atas pada tujuanmu, dan tinggallah terpusat pada Allah.

Jangan kau dikecilhatikan oleh siapapun mengenai masa lampaumu. Masa lampau itu memang tepatnya begitu – “sudah lewat, sudah lampau.” Hidupilah setiap hari sehari demi sehari. Dan ingatlah bahwa hanya Allah yang tahu masa depan kita dan bahwa Ia tidak akan membiarkanmu melewati daya tahanmu.

Janganlah memandang pada sesamamu untuk meminta berkat melainkan lihat dan bergantunglah pada Tuhan. Ia bisa membuka pintu2 bagimu yang cuma Ia saja yang bisa lakukan. Pintu2 yang bukan kau masuki dengan menyelinap, melainkan yang hanya Ia yang sudah persiapkan bagi dan demi kamu. Jadi, tunggulah, tenanglah, sabarlah: dahulukan Allah dan lain-lainnya akan nyusul dengan sendirinya.

“MEMBANGUN KOMUNITAS YANG DIBERKATI TUHAN UNTUK MENJADI BERKAT BAGI DUNIA”

Posted in Renungan | Leave a Comment »